Antara Wahyu dan Hawa Nafsu
Melawan hawa nafsu adalah sesuatu yang sangat berat, apalagi kalau keinginan nafsu bertentangan dengan perintah Allah Ta'ala dan Rasul-Nya shollallahu 'alaihi wa sallama. Hawa nafsu yang mengajak kepada perbuatan keji dan mungkar selalu bertentangan dengan kehendak syari'at. Dan setiap sikap atau perbuatan yang tidak mematuhi syari'at adalah mengikuti hawa nafsu.
"Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Qoshosh : 50)
Ketika kita dihadapkan kepada dua pilihan; hawa nafsu atau wahyu? Ketika itulah tampak kekuatan iman seseorang.
Imam Ibnul Qoyyim berkata :
"Barangsiapa yang tidak mengikuti Nabi shollallahu 'alaihi wa sallama apabila telah jelas baginya sunnah dan ia berpaling kepada yang menyelisihinya, sungguh ia telah mengikuti hawa nafsunya." (Ash-Showaiq al-Mursalah : 4/1526)
Permasalahan ini perlu kita ingatkan, khususnya di zaman ini dimana telah banyak padanya hawa nafsu, dan beragam pula sikap manusia terhadap nash-nash syar'iyyah dengan berbagai dalih dan alasan; ada yang membela bid'ahnya, ada yang sengaja mencari-cari keringanan dalam beragama yang sesuai keinginannya bukan keinginan Allah dan Rasul-Nya!
Nilai keimanan seseorang ada pada saat ia menjadikan Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallama sebagai hakim yang memutuskan permasalahannya!
Nilai keislamannya ada pada saat ia menerima keputusan Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallama dengan lapang dada tanpa ada ganjalan atau mendongkol di hatinya!
Nilai kesempurnaannya sebagai hamba Allah yang mengikuti Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallama adalah ketika ia menerima dengan pasrah ketetapan Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallama!
Karena ia berbicara berdasarkan wahyu sedangkan yang menyelisihinya berbicara berdasarkan nafsu.
"Dan tidaklah ia berbicara berdasarkan hawa nafsu, sesungguhnya ia hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya." (QS. An-Najm : 3-4)
Allah berfirman :
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisa' : 65)
Silahkan pilih wahyu (jalan yang lurus) atau hawa nafsumu (kesesatan)!!
Lurus jalan ke danau bingkuang...
Banyak orang menjual durian...
Melawan nafsu haruslah menang...
Nabi Muhammad jadikan panutan...
(Abuz Zubair Hawaary)
📚 Grup WA "Inilah Jalan Kami!"